Ex Redaktur Harian Memorandum Surabaya Menilai, Statemen Penasehat PWI Sumenep Tak Nyambung


Sumenep, SBNews - Mantan Wartawan Harian sekaligus Redaktur Harian pagi Memorandum Surabaya (Jawa Pos Grup) menyayangkan pernyataan Moh. Rifai yang mengatasnamakan sebagai pemasehat PWI Sumenep dalam sebuah acara yang dilansir salah satu Medi online setempat. 

Menurut pria yang juga Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk ini, jika benar Moh Rifai mengaku sebagai penasehat PWI Sumenep,maka dirasa kurang elok jika terkesan melakukan pembelaan secara membabi buta terhadap protes awak media terhadap status Indra Wahyudi (Wakil Ketua DPRD Sumenep) di laman facebooknya yang menyebut media ecek-ecek. 


"Sebenarnya saya males mengomentari pernyataan dia (Moh. Rifai) karena saya rasa itu tidak nyambung. Aneh khan, kalau dia merasa tidak terima terhadap aksi protes awak media terhadap status facebook salah satu wakil ketua DPRD. Kecuali dia itu menjadi penasehat anggota dewan. Loh wong dia bukan. Apalagi, selama ini kita tk ada masalah dengan Ketua maupun anggota PWI Sumenep. Ini namanya gagal paham," ujar Ferry Arbania kepada awak media,  Minggu  13 Oktober 2019.

Dilanjutkan Ferry, secara pribadi pihaknya mengaku tidak mempermasalahkan pernyataan mantan Ketua Panwaskab itu, namun demi melihat betapa kerasnya perjuangan insan pers di Sumenep, dirinya mengaku sangat menyayangkan karena akan menimbulkan kegaduhan dan perpecahan dikalangan awak media. 

"Lucunya lagi dia malah menyebut beberapa media yang tidak ikut menulis postingan ecek-ecek yang dialamatkan Wakil Ketua DPRD. Itu nggak nyambung,karena masing-masing media punya kebijakan sendiri dan otoritas berita bukan di wartawannya tapi di Pimrednya," tandasnya lagi. 

Pihaknya juga menyayangkan soal pernyataan Moh. Rifai yang menyinggung soal wartawan yang merangkap sebagai pengacara bahkan preman. 

"Ini justru pernyataan yang barbar dan tidak pantas disampaikan kepada publik. Karena ini tidak kaitannya dengan pengacara maupun preman maupun LSM. Ini malah menebar permusuhan. ,"tutupnya. 

Sebelumnya muncul pemberitaan disalah satu media online, yang melansir pernyataan Moh Rifai yang mengaku Penasehat PWI SUMENEP yang terkesan memojokkan wartawan yang protes terhadap pernyataan Wakil Ketua DPRD Sumenep soal media ecek-ecek. 

“Radar Madura, Kabar Madura, Kompas Group, Surya, Antara, dan lain-lain tidak satupun yang menulis status facebook media ecek-ecek, karena hal itu tidak ada dampak positif terhadap masyarakat luas, hanya masalah ketersinggungan antara salah satu wartawan dengan seorang anggota DPR, muter-muter di sana aja” ujar Moh. Rifai dilansir dari limadetik.com.

Penasehat PWI Sumenep itu menyampaikan bahwa, saat ini banyak wartawan dadakan tanpa pengetahuan tentang jurnalisme, tak tahu kode etik, minus kompetensi.

“Banyak wartawan standart ganda, merangkap LSM, merangkap pengacara bahkan merangkap preman.”  katanya. (dbs/ldk/tim)

Label: