Membongkar Sosok Yobana Samial: Ini Yang Dilakukannya Untuk Padang Pariaman
Kontributor SBNews.co.id dalam menjalankan tugas peliputannya dilengkapi dengan Id Card yang masih berlaku serta namanya tercantum di box redaksi. Jika anda memiliki keluhan terkait kinerja tim kami dilapangan silahkan hubungi 08772666229

Membongkar Sosok Yobana Samial: Ini Yang Dilakukannya Untuk Padang Pariaman

18 Agustus 2019



Oleh : Rico Adi Utama

Sang Prajurit, H. Yobana Samial,SH, dikatakan terlalu sering ikut menjadi kontestan Pilkada di Kabupaten Padang Pariaman, namun sampai saat ini belum sekalipun memenangkan pertarungan. Ironinya lagi, cukup besar biaya yang sudah dikeluarkan oleh Yobana Samial, sejak tahun 2000an pulang ke Minangkabau (Khususnya: Kabupaten Padang Pariaman).

Namun, ketika dua hal itu ditanyakan kepada dirinya, Yobana Samial hanya tersenyum sumringah. Tampak sudut matanya yang tegas, menggambarkan tidak sedikitpun penyesalan dan kesusahan dalam diri Sang Prajurit itu, yang sudah berbuat ke kampung halaman kurang lebih 19 tahun lamanya.

Lepas Dari TNI Angkatan Laut
Petualangan politik Yobana Samial, dimulai ketika dirinya memutuskan keluar dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut (AL). Entah apa yang ada dipikiran Yobana saat itu, karier gemilang menjadi seorang perwira TNI, sudah sangat nyata untuk dirinya yang pada waktu itu pula sudah berpangkat Letnan Satu (Lettu) dan saat ini bisa saja sudah berpangkat Jenderal Bintang Dua.

Setelah tidak lagi menjadi TNI aktif, Yobana yang sudah bergelar Sarjana Hukum (SH) menyatakan sikap menjadi seorang Lawyer (Pengacara.red). Tapi, profesi ini tidak pula berjalan lama, Ia pun memutuskan untuk tidak ber-acara lagi sebagai lawyer dan beralih membuka Kantor Notaris.

Nah, menjadi seorang notaris, Yobana mulai merasakan sedikit kenyamanan dalam berprofesi sekaligus ekonominya merangkak naik. Alhasil, Yobana akhirnya lumayan sejahtera dengan berbagai asset yang terbilang cukup mewah, dari mulai memiliki beberapa bidang tanah, rumah, mobil mewah (Alfard), Honda Jass dan kendaraan lainnya serta  termasuk memiliki Pondok Pesantren dan Rumah Tahfizh.

Beberapa diantara asset itu, sudah habis dijual untuk kegiatan – kegiatan dirinya di Padang Pariaman dengan program – programnya termasuk untuk ongkos Pilkada.

Baca jugaYobana Ingin Ada Pesantren di Setiap Nagari di Padang Pariaman
Perangi Misi Kristenisasi di Minangkabau
Kepulangan Yobana ke Minangkabau, salah satunya didorong oleh kegelisahan dirinya pada Tahun 2000an dengan mewabahnya misi Kristenisasi di beberapa Kampus di Kota Padang dan beberapa daerah lainnya.

Ia pun mengumpulkan beberapa rekan - rekannya untuk berjuang memerangi misi Kristenisasi, yang sudah memakan korban itu. Pada akhirnya dibentuklah sebuah lembaga bernama Paga Nagari, untuk menjadi benteng Islam dari misi Kristenisasi itu di Minangkabau.

Yobana pernah menjelaskan kepada Saya, bahwa Paga Nagari berfungsi memberikan advokasi kepada korban pemurtadan. Fakta yang mereka temui dilapangan, tidak semua indikasi kasus pindah agamanya orang Minang waktu itu, semata – mata karena dipaksa kawin.

Tetapi, ternyata ada pula alasan mereka mengganggap pindah agama dari Islam itu pilihan yang lebih baik. Namun, hakikinya pindah agama mereka itu, tentu tidak terlepas karena tidak punya pondasi yang kuat dengan ke-Islamannnya. Kemudian mereka merantau, di perantauannya itulah mereka pindah agama.

Galakkan Taslim di Minangkabau
Tausiyah Singkat Lima Menit (Taslim) adalah lanjutan program nyata Yobana Samial untuk kampung halamannya, usai memerangi misi Kristenisasi. Program TASLIM pun diiringi oleh program; Tahfidz, Gerakan Shalat Subuh, Tabloid yang pernah dibagikan keseluruh Sumatera Barat, Lembaran Tausiyah untuk setiap hari Jum’at dan lain – lain.

Yobana menjelaskan, semua program itu tidak terlepas dari peranan sahabatnya, Buya Amir Azli. Sejak tahun 2000 itu, Ia pun membentuk Lembaga Surau Indonesia dan menyiapkan perangkat lunak berbentuk buku untuk berbagai tingkatan sekolah, seperti; SD dengan 5 Jilid diperuntukkan Kelas 1 sampai 5, SMP sebanyak 3 jilid untuk Kelas 1 sampai 3 dan SMA sebanyak 3 jilid untuk kelas 1 – 3.

Setiap buku berisi 600 judul materi Tausiyah. Buku pun dicetak dengan kualitas lux dan dibagikan hampir ke seluruh SMP, SMA/ SMK di Padang Pariaman dan sebagiannya di tingkat SD. Praktek TASLIM dilakukan 5 menit sebelum pelajaran dimulai dan 5 menit sesudah pelajaran usai.

Namun, sayangnya program ini tidak mendapat dukungan dari pemangku kekuasaan. Membuat program berjalan terseok – seok/ alias kurang berjalan sebagaimana yang diharapkan. Ironinya lagi, TASLIM dianggap beban oleh sebagian guru, terutama guru yang harus berangkat kuliah dan alasan keperluan lain mereka masing – masing. Intinya para guru lebih ingin cepat pulang ketimbang memberikan Tausiyah,. Program itu akhirnya hanya bertahan sekitar 3 hingga 4 tahun lamanya.

Harapan Yobana, dengan buku yang berisikan Tausiyah itu, dapat menjadi penangkal pemurtadan dan memperkuat aqidah generasi penerus, sejak anak SD hingga SMA.

Dan akhirnya Ia lebih mendorong Sahabatnya, Amir Azli, untuk menjalankan program Rumah Tahfizh, Gerakan Shalat Subuh Berjamaah dan baru – baru ini Program Alfatiah Center.

Tidak Terpilih di Pilkada, Tetap Berbuat
Akhirnya, terkait dirinya maju di Pilkada Padang Pariaman pada tahun 2010 dan sempat pula tidak berhasil maju menjadi calon Bupati pada tahun 2015, Saya bertanya apa betul maksud dan tujuan yang sebenarnya.

Ia akhirnya membeberkan, bahwa Ia maju ke kancah politik adalah untuk mewujudkan mimpinya menjadikan ‘Kabupaten Padang Pariaman Yang Ber-Iman dan Bertaqwa’.

Lalu, saya pertajam soal kepemimpinan dan kebutuhan masyarakat, kenapa harus Iman dan Taqwa, padahal kan masyarakat malah cenderung berpikir soal kebutuhan hidup. Ternyata dengan sederhana Iapun menjawab, bahwa jika urusan akhirat sudah rampung (Ber-Iman & Ber-Taqwa) yang tentunya mendapatkan ridho Allah SWT, maka dunia (ekonomi, status sosial dan lain – lain) akan secara otomatis mengikut pula.

Ia mencontohkan, bahwa puncak kebahagian dapat diraih dengan rasa syukur dan terhindar dari keluh kesah. Maka, kekuatan spiritual (Iman & Taqwa), bukan tidak mungkin menjadikan seseorang akan lebih sejahtera dan makmur dalam berbagai hal.

Jadi, dirinya tidak termotivasi oleh nafsuh sekadar berkuasa, berusaha mencari kekayaan apalagi pamor (nama besar). Tetapi, tidak lebih daripada pengabdian disisa usianya dan bermanfaat untuk orang banyak, terutama kampung halamannya sendiri.

Dikritik Terlalu Agamis, Yobana Membantah
Dikarenakan acap kali memposting di media sosial (WhastApp) dan menyampaikan programnya kepada orang – orang yang selalu berbau agama, Yobana Samial dituding terlalu agamis dan naïf.

Sebagian orang yang Saya temui malah mengatakan, untuk apa mengajari masyarakat soal agama, sementara di Padang Pariaman itu asal muasal penyebaran Agama Islam di Minangkabau ‘Syarak Mandaki, Adaiak Manurun’ (Artinya: Agama Mendaki atau menyebar dari bawah yang dimaksud adalah Kabupaten Padang Pariaman dan Adat menurun atau menyebar dari Pagaruyung sekarang Kabupaten Tanah Datar).

Artinya, masyarakat akan bosan jika terlalu diajari soal agama dan sekaligus bicara program, itu pendapat sebagian orang yang saya temui soal Yobana dan program keagamaannya. Bahkan, kalau soal segmentasi politik, itu tidak terlalu berpengaruh terhadap elektabilitas Yobana Samial, kata mereka kepada Saya.

Yobana pun menjawab, bahwa dirinya menjadikan agama sebagai pokok program/ induk program, namun dirinya juga sedang memetakan potensi dan kebutuhan masyarakat pada sektor pertanian, kelautan, perkebunan dan yang lainnya.

Saat ini, Ia sedang merumuskan metode yang akan dilakukan bagaimana Kabupaten Padang Pariaman mendapatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor – sektor rill sesuai potensi di kampungnya itu.

Begitu pula Wisata berbasis Syariah yang merupakan salah satu turunan konsep 9 daerah strategis di Kabupaten Padang Pariaman, sangat mungkin diwujudkan di Ulakan Tapakis (Lokasi Makam Syekh Burhanuddin). Konsep Yobana soal itu, sudah sangat matang dan bisa diadu secara factual kapan saja.

Sementara itu, Ia memaparkan pula kepada Saya, bahwa dirinya sudah mempesiapkan berbagai hal yang sangat teknis untuk menjadi Padang Pariaman benar – benar lebih baik. Artinya, semua ini membantah bahwa Yobana terlalu agamis dan naïf, karena Ia ada untuk semua kelompok, kalangan, berbagai kepentingan dan intinya Yobana Samial All in for Padang Pariaman. (*)

close
Banner iklan disini