Untuk Piaman, Yobana Sudah Galakkan TASLIM Beberapa Tahun Yang Lalu

Untuk Piaman, Yobana Sudah Galakkan TASLIM Beberapa Tahun Yang Lalu

02 July 2019



Jakarta, SBNews – Pada tahun 2000an, H. Yobana Samial,SH, miris melihat kenyataan dengan adanya orang Minangkabau yang pindah agama. Ia tidak mau berdiam diri, dengan sigap Ia dan rekan – rekan seperjuangannya mendirikan sebuah lembaga bernama Paga Nagari.

“Paga Nagari berfungsi memberikan advokasi kepada korban pemurtadan. Fakta yang kami temui dilapangan, tidak semua indikasi kasus pindah agamanya orang Minang waktu itu, semata – mata karena dipaksa kawin. Tetapi, ternyata ada pula alasan mereka mengganggap pindah agama dari Islam itu pilihan yang lebih baik. Namun, hakikinya pindah agama mereka itu, tentu tidak terlepas karena tidak punya pondasi yang kuat dengan ke-Islamannnya. Kemudian mereka merantau, di perantauannya itulah mereka pindah agama,” beber Yobana Samial, menguak ceritanya awal mulanya mendirikan Paga Nagari.

Lebih lanjut Da Yob, sapaan akrab Yobana Samial, berpikir lebih keras lagi solusi jitu untuk memagari kampung halamannya dari bahaya pemurtadan. Tanpa pikir panjang, dirinya dibantu dengan rekan – rekannya yang selalu peduli dengan perjuangan itu, mendirikan Lembaga Surau Indonesia.

“Lembaga Surau Indonesia adalah study untuk revitalisasi aqidah Ummat. Banyak program yang dibuat dan diarahkan ke kampuang halaman, khususnya di Kabupaten Padang Pariaman,” imbuh Da Yob.

Da Yob, yang juga mantan Perwira TNI Angkatan Laut (AL) itu, membuat SD Plus Pesantren dengan 7 Pilot Project-nya di Kabupaten Padang Pariaman. Yang tidak kalah penting dari program itu, Iapun menggalakkan Tausiyah Singkat Lima Menit (TASLIM).

“SD Plus Pesantren selain di kuatkan dengan TASLIM, juga ada program Tahfidz, Gerakan Shalat Subuh, Tabloid yang pernah dibagikan keseluruh Sumatera Barat, Lembaran Tausiyah untuk setiap hari Jum’at dan lain – lain,” katanya.

“Semua itu tidak terlepas dari peranan sahabat Saya Buya Amir Azli. Sejak tahun 2000 itu, Lembaga Surau Indonesia sudah menyiapkan perangkat lunak berbentuk buku untuk berbagai tingkatan sekolah, seperti; SD dengan 5 Jilid diperuntukkan Kelas 1 sampai 5, SMP sebanyak 3 jilid untuk Kelas 1 sampai 3 dan SMA sebanyak 3 jilid untuk kelas 1 – 3,” ulas Da Yob.

Ia pun menjelaskan, bahwa setiap buku berisi 600 judul materi Tausiyah. Buku pun dicetak dengan kualitas lux dan dibagikan hampir ke seluruh SMP, SMA/ SMK di Padang Pariaman dan sebagiannya di tingkat SD. Praktek TASLIM dilakukan 5 menit sebelum pelajaran dimulai dan 5 menit sesudah pelajaran usai.

“Sayangnya, program ini tidak mendapat dukungan dari pemangku kekuasaan. Membuat program berjalan terseok – seok/ alias kurang berjalan sebagaimana yang diharapkan. Ironinya lagi, TASLIM dianggap beban oleh sebagian guru, terutama guru yang harus berangkat kuliah dan alasan keperluan lain mereka masing – masng. Intinya para guru lebih ingin cepat pulang ketimbang memberikan Tausiyah,. Program itu akhirnya hanya bertahan sekitar 3 hingga 4 tahun lamanya dan berakhir sampai saat ini,” tukas Da Yob.

“Harapannya, dengan buku yang berisikan Tausiyah itu, dapat menjadi penangkal pemurtadan dan memperkuat aqidah generasi penerus, sejak anak SD hingga SMA,” katanya lagi.

Berjuang Demi Kampung dan Agama, Bang Yob Ingin Jadi KaDa
Kesimpulan tidak berjalannya program yang Ia usung bersama rekan – rekannya, terutama bersama Buya Amir Azli, akhirnya membuat kuat keinginan Yobana Samial menjadi Kepala Daerah (KaDa) di Kabupaten Padang Pariaman.

“Ketika Saya jadi Kepala Daerah, tentu akan membuat semua program keagaman tersebut mudah untuk diaplikasikan,” ujar Da Yob.

“Namun, sudah beberapa kali Saya berupaya dan belum berhasil mengikuti ajang politik menjadi Kepala Daerah di Kabupaten Padang Pariaman, Saya tetap bertanggungjawab kepada ummat hingga saat ini dengan menggalakkan TASLIM lewat media sosial, terutama melalui WhatsApp, sejak aplikasi ini marak di Indonesia,” tukuknya.

“Sebenarnya, apa yang saya lakukan dengan TASLIM itu adalah salah satu peranan ulama dan Saya tidak ada latar belakang ulama, karena Saya hanya pernah menjadi Perwira TNI AL, Pengacara dan saat ini Notaris. Namun, seperti apa yang Saya fahami, bahwa berdakwah adalah kewajiban setiap Muslim, tentang saling sehat menasehati dalam jalan kebenaran, yang merupakan fungsi kuat dari dakwah,” pungkasnya. (RICO ADI UTAMA)

close
Banner iklan disini