Proyek P3-TGAI Cening - Cikedal Asal Jadi & Langgar KIP

Proyek P3-TGAI Cening - Cikedal Asal Jadi & Langgar KIP

03 June 2019

Pandeglang Banten, SBNews.co.id - Pembangunan saluran air yang disinyalir melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) di desa Cening kecamatan Cikedal - Pandeglang gunakan material tidak layak serta diduga melanggar Undang-Undang No. 14 tahun 2008, tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP).

Pasalnya, dilokasi pembangunan tersebut tidak ditemukannya papan informasi pembangunan itu, bahkan pekerja pembangunan irigasi itu pun mengaku tidak mengetahuinya, dan merekapun memberikan keterangan Harian Ongkos Kerja (HOK) begitu tidak jelas, alias simpangsiur mengatakannya.

"Untuk upah pekerja sebagai knek, kami dibayar sebesar Rp. 80.000 perhari, sementara pekerja selaku tukang dibayar sebesar Rp. 100.000 perhari," kata salahseorang pekerja irigasi tersebut.

"Kalau nama, Lanjut pekerja,  program pembangunannya sama sekali saya yang disini tidak tau, dan mengenai papan informasi pembangunan pun saya tidak pernah melihatnya selama satu minggu kerja, dan kami pun tidak tau jumlah besaran Anggarannya," imbuhnya.

Sementara Endang Selaku Anggota Lembaga Swadaya Masyarakat Generasi Muda peduli Tanah Air (LSM-Gempita) mengatakan, dirinya membenarkan yang dikatakan pekerja tersebut, tidak nampaknya papan informasi pembangunan yang dimaksud.

"Saya memantau ada Dua atau Tiga titik proyek irigasi di desa Cening ini, yang tanpa papan informasi pembangunan, dan sangatlah jelas kalau pelaku pelaksana pembangunan itu terkesan dibiaskan dari masyarakat, hal demikian diduga agar tidak tercium tentang informasi proyek yang seharusnya diketahui publik yang membutuhkannya, sekaligus konsultannya pun sepertinya tidak tegas," tutur Endang.

Endang juga menerangkan, temuan di lokasi pembangunan irigasi tersebut menggunakan beberapa jenis batu yang tidak layak, yakni menggunakan Batu berwarna merah dan kuning yang diketahuinya ada penggunaan jenis batu Cadas, bukan jenis batu belah murni. Selanjutnya Endang mengatakan diduga proyek itu menggunakan jenis Semen yang tidak sesuai Rencana Anggaran Belanja (RAB) begitupun dwngan kedalaman pondasi irigasi.

"Kami lihat sendiri banyak batu merah dan kuning digunakan untuk pemasangan irigasi, dan batu berwarna merah itu persis batu Cadas, dan Semen yang digunakan itu kami duga tidak sesuai Spek, belum lagi mengenai takaran adukannya, antara pasir dan Semen tidak menggunakan takaran yang layak," ungkapnya. (Irsad/Irf)

close
Banner iklan disini