Proyek Ratusan Milyar Diduga Dikerjakan Tidak Sesuai Spek

Proyek Ratusan Milyar Diduga Dikerjakan Tidak Sesuai Spek

07 May 2019

LSM GEMPITA Minta Pihak Kementrian PUPR Segera Bertindak

Pandeglang Banten, SBNews.co.id - Proyek pembangunan jalan raya Cilegon - Labuan dan jalan raya simpang Tarogong - Cibaliung terkesan dibiarkan terus berjalan tanpa mengindahkan spesifikasi yang berlaku. Pasalnya, pelaksanaan proyek itu menggunakan material yang tidak maksimal dan terkesan lepas dari pengawasan konsultan.

Pelaksanaan pembangunan Drinase pelengkap bahu jalan raya disinyalir tidak menggunakan takaran material (Dolak takar) yang seharusnya digunakan untuk menakar pasir pasang sesuai ukuran yang ditentukan, agar mutu pembangunan Drinase tersebut sesuai dan epektif berkwalitas.

"Setiap saya pantau atau memonitor berjalannya ditahap pembangunan Drinase jalan raya, tak pernah saya temukan penggunaan Dolak takar untuk material pasir pasang, dan penggunaan material semen pun tidak beraturan, seolah meminimalisir penggunaan semen dan pasir," ujar Royen salahsatu Anggota Lembaga Swadaya Masyarakat Generasi Muda Peduli Tanah Air (LSM-GEMPITA) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) kabupaten Pandeglang.

"Tahap pekerjaan, Lanjut Royen, drinase itupun tidak saya temukan adanya penggunaan pasir urug untuk dasar pondasi, ataukah mungkin dalam perencanaannya memang tidak menggunakan pasir guna dasar pasangan batu drinase," imbuhnya.

Sementara terpantau diseputar pekerjaan normalisasi drinase yang sudah ada, dikerjakan dimalam hari tanpa adanya penerangan yang layak, bahkan sepertinya untuk mengejar target, pekerjaan dinase dilaksanakan di malam hari dan minimnya penerangan lampu kerja.

"Untuk pekerjaan normalisasi drinase yang dikerjakan di malam hari tanpa menggunakan penerangan lampu kerja, sehingga para pekerja melaksanakan tugasnya tanpa fasilitas penerangan sehingga terlihat gelap, dan itu terjadi di area kawasan desa Sukajadi Carita, tepatnya berdekatan dengan Lippo Hotel Carita," jelas Royen.

Dikatakan Wahyu, yang mengaku selaku pengawas pekerjaan normalisasi drinase ditempat itu, menurutnya pekerjaan tersebut dilaksanakan dimalam hari tanpa adanya penerangan lampu kerja itu untuk mengantisipasi datangnya hujan. Dan ketika dikonfirmasi prihal tidak digunakannya perlengkapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk para pekerja, Wahyu pun enggan menjelaskannya.

Terpisah M. Yaya Ketua LSM-Gempita DPD kabupaten Pandeglang memaparkan, Tahap pelaksanaan pekerjaan pengaspalan atau Hotmix jalan raya diduga minimnya penggunaan aspal emulsi atau Lapis perekat (tack coat), padahal material yang satu ini merupakan lapisan aspal cair yang diletakkan di atas lapisan beraspal sebelum lapis berikutnya dihampar, karena lapis perekat berfungsi untuk memberikan daya ikat antara lapis lama dengan yang baru.

"Yang saya lihat, selain minimnya penggunaan aspal emulsi, dan setelah lapis perekat ditebar, terus ditinggalkan beberapa jam, hingga aspal emulsi itu menjadi kering, setelah itu barulah ditimpah oleh aspal buton atau yang disebut Hotmix, menurut saya pekerjaan seperti itu tentunya tidak efektif dan jelas tidak bermutu, karena daya rekatnya sangat kurang, dan minimnya penggunaan aspal emulsi itu tidak akan meresap apalagi harus menutup pori-pori halus pada lapisan yang lama," papar M. Yaya.

M. Yaya juga mengungkapkan hasil pantauannya prihal pelaksanaan pekerjaan Rigit Pavement, hingga timbulnya kesan pelaksanaan proyek ratusan miliaran tersebut dikerjakan Asal-asalan atau bisa dikatakan Asal jadi. Pasalnya, dalam tahap pemasangan rangka pembesian, yakni Tibar, terlihat pemasangan besi tibar Rigit Pavement itu tidak pada posisi yang pas.

"Mestinya besi berulir itu diikat tepat pada kaki penahan besi melintang, bukan diposisi besi yang melintangnya, dan saya lihat itupun tidak efektif," katanya.

"Ditambah lagi sebuah kejanggalan dalam pemasangan besi Dowel yang hanya menggunakan satu balokan besi atau sloop, dan tidak menggunakan skat beton pada Dowel, sehingga rangka besi Dowel ditanam beton tanpa penyekat atau pembatas antara Dowel degan segment selanjutnya," ungkapnya.

"Sementara dalam pembangunan Rigid Pavement tersebut tidak pernah saya lihat dilakukannya penggunaan Cumpound secara disemprotkan, yang saya lihat setelah melakukan Gruting pada permukaan maka selanjutnya dilakukan pemasangan Curing beton atau tutup permukaan Rigid Pavement tersebut, padahal Curing Compound ini selain berguna untuk perawatan daerah vertikal juga berguna untuk daerah yang mempunyai temperatur yang tinggi, dan biasanya dalam pembangunan Rigid Pavement menggunakan Compound cair tersebut," tambahnya.

"Dan terakhir saya katakan, bahwa sepanjang proyek ratusan milyar itu dilaksanakan, pelaksana tidak memberikan perlengkapan K3 terhada para pekerja harian secara lengkap, diluar tenaga kantor, dan banyak hal yang diduga tidak sesuai Spek, untuk memberikan epek jera terhadap pihak pelaksana, maka kami berharap pihak kementrian PUPR agar segera bertindak terjun langsung memantau pekerjaan itu, dan sangat disayangkan sampai sekarang ini pihak konsultan begitupun pihak pelaksana belum bisa ditemui," pungkasnya. (Yadi/Irf)

close
Banner iklan disini