Karyawan KOSIPA Bawa Lari Gadis Warga Desa Sindanglaut Carita

Karyawan KOSIPA Bawa Lari Gadis Warga Desa Sindanglaut Carita

17 January 2019

                                                                             Foto: Ilistrasi
Pandeglang, SBNews.co.id - Seorang pria karyawan salah satu Koprasi Simpan Pinjam (KOSIPA) bernama Rian asli warga Medan telah membawa lari Aam Umyati, Gadis warga kampung Durung desa Sindanglaut kecamatan Carita - pandeglang sejak Sabtu lalu.

Karyawan perusahaan yang disebut Bank keliling berkedok koperasi itu sudah meresahkan masyarakat desa Sindanglaut, khusnya warga kampung Durung. Timbulnya kejadian tersebut membuat orang taua Aam melaporkannya kepada pihak Kepolisian Sektor (POLSEK) Carita.

Sehubungan perusahaan bank kosipa atau bank keliling sudah meresahkan masyarakat desa Sindanglaut secara umun, dan warga kampung Durung kususnya yang telah dilakukan oleh karyawan  KOSIPA atau yabg biasa disebut bank keliling tersebut, sehingga warga setempat membuat Edaran tertulis yang berbunyi "kami atas nama masyarakat desa Sindanglaut menyetop kegiatan kosipa tersebut untuk tidak lagi menjalankan aktipitasnya di desa Sindanglaut, kahususnya di kampung Durung".

Keresahan yang dilakukan oknum karyawan Kosipa itu mendapat kecaman beberapa pihak, termasuk pihak Lembaga Swadaya Masyarakat Generasi Muda Peduli Tanah Air (LSM-GEMPITA).

"Karyawan Bank keliling yang berkedok Koperasi itu harus bertanggung jawab atas perbuatannya yang telah membawa anak gadis orang tanpa izin atau restu itu," ucap M. Yaya, Ketua Gempita Dewan Perwakilan Daerah Pandeglang, Rabu (16-01-2019). 

Lebih jauh Yaya mengatakan, bahwa perusahaan Bank keliling yang berkedok koperasi termasuk Kosipa diduga masih banyak yang tidak memiliki ijin secara lengkap, dan beraktipitas diluar aturan koperasi yang ditentukan.Pada dasarnya, yang dimaknai dengan bank gelap adalah orang atau Pihak-pihak yang menjalankan kegiatan yang Seolah-olah bertindak sebagai koperasi simpan pinjam, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 ayat (1) jo. Pasal 16 ayat (1) UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, jelasnya.

"Seperti yang tertuang, Lanjut Yaya, dalam Pasal 46 ayat (1) UU No. 10/1998, merumuskan sebagai berikut, "Barang siapa menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa izin dari Pimpinan Bank Indonesia sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 16, diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp10 miliar dan paling banyak Rp200 miliar," terang Yaya.

close
Banner iklan disini