Wow Ribuan Wartawan Ukir Sejarah Berkumpul Di TMII Adakan Musyawarah Besar PERS Indonesia
Kontributor SBNews.co.id dalam menjalankan tugas peliputannya dilengkapi dengan Id Card yang masih berlaku serta namanya tercantum di box redaksi. Jika anda memiliki keluhan terkait kinerja tim kami dilapangan silahkan hubungi 08772666229

Wow Ribuan Wartawan Ukir Sejarah Berkumpul Di TMII Adakan Musyawarah Besar PERS Indonesia

SBNews
19 Desember 2018


Saat Acara Mubes Pers Indonesia

JAKARTA, SBNews.co.id - Pada hari Selasa, 18 Desember 2018, di Sasono Utomo TMII para pewarta warga (citizen Journalist) mencatatkan satu sejarah penting Bangsa Indonesia melalui penyelenggaraan Musyawarah Besar Pers Indonesia. Di ajang ini selain dibacakan tuntutan terhadap pemerintah, juga dideklarasikan Dewan Pers Independen.

Ketua Tim Pelaksana Mubes Pers Indonesia, Wilson Lalengke yang juga orang nomor satu di jajaran Sekber Pers Indonesia sekaligus Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), mengatakan bahwa deklarasi Pembentukan Dewan Pers Independen (DPI) serta penyampaian aspirasi dan tuntutan Pers Indonesia untuk mewujudkan Kemerdekaan Pers dan kehadiran Negara dalam pemberdayaan Masyarakat Pers Indonesia.

Saat ini ada dikotomi yang dilabelkan bahwa industri, organisasi dan insan pers di luar komunitas pers dibawah dewan pers dipandang sebelah mata, dicap abal-abal bahkan dikriminalisasi.

Menanggapi kehadiran insan dari seluruh Indonesia hari ini dalam mubes pers Indonesia, Pendiri Forum Wartawan Digital (FORWARD) Mahar Prastowo memberikan apresiasinya.

Menurut Mahar, ketika ekspresi para pegiat pers ini sudah menjadi sebuah gerakan dan solid, memang sebaiknya diberikan ruang berekspresi dan naungan yang membuat mereka merasa terlindungi. Maka disinilah harusnya kehadiran negara harus dirasakan, atau jika lembaga yang sudah ada tidak cukup memberi ruang, maka ketika mereka mendeklarasikan lembaga alternatif berupa dewan pers independen, sah-sah saja. Kemerdekaan berserikat dan berkumpul dilindungi UUD 1945, dan sebagai warga negara yang menyelenggarakan kegiatan pers sebagai industri, organisasi maupun pribadi dilindungi UU Pers.

"Saya justru berharap nantinya antara Dewan Pers dengan Dewan Pers Independen ini saling bersinergi, jangan hanya mengedepankan konflik, tidak memandang satu sama lain sebagai musuh tapi sebagai kompetitor dan sekaligus mitra strategis untuk hal-hal yang bisa dikerjasamakan," ujar Mahar.

Menjawab pertanyaan wartawan mengenai kesejahteraan insan pers dari iklan, sebagaimana akan diperjuangkan DPI, Mahar menanggapi positif hal tersebut. Dengan belanja iklan lebih dari 100 trilyun pertahun, media-media dibawah Dewan Pers Independen tentu lambat laun akan mendapatkan juga seiring kepercayaan yang tumbuh pada stakeholder. Meski hal ini memang harus diperjuangkan tak hanya melalui mekanisme organisasi, namun juga tata kelola media yang profesional dan berkesinambungan.

Atas kehadiran lebih dari 2000 insan pers dari seluruh Indonesia dalam Mubes Pers Indonesia, Mahar juga melihatnya sebagai sebuah kegiatan positif, yang tentu saja mereka hadir dengan harapan yang baik juga karena kehadirannya dengan biaya sendiri, dan bahkan banyak yang melampaui biaya mengikuti uji kompetensi wartawan (UKW) yang diselenggarakan Dewan Pers di daerah-daerah.

Apakah ini berarti ada sesuatu dengan Dewan Pers? Tanya wartawan.

"Saya kira ini soal pilihan saja mereka mau bergabung dalam UKW atau memilih bergabung mendirikan Dewan Pers Independen hari ini. Dan ini saya lihat bagian dari soliditas antar sesama pegiat jurnalisme warga setelah sebelumnya mengalami berbagai hal kurang menyenangkan," tutur Mahar.
 
Mahar Prastowo Pendiri Forum Wartawan Digital (FORWARD) 
Mahar juga menambahkan, selama organisasi didirikan untuk hal positif dan peningkatan kapasitas serta kualitas, apa salahnya? Bahkan lembaga yang sudah ada lebih dulu sebagai perpanjangan negara dalam melakukan monitoring dan evaluasi pers nasional, seharusnya menyambut positif. Karena ketika mereka berhimpun dan mengorganisir diri, artinya mereka tak ingin dianggap "liar", mau meningkatkan profesionalitas. "Jadi harus dibantu dan didukung," pungkas Mahar. (Red)

close
Banner iklan disini